Catatan Saham Bedah laporan keuangan, satu emiten per tulisan
← Semua tulisan

TINS 9M 2026: Laba Rp4.12 Triliun, PER 5x, dan Pertanyaan yang Tidak Nyaman

Laba rekor di puncak siklus harga timah. Berapa harga timah yang sebenarnya sudah dihargai pasar?

TINSData per 3 Nov 20267 menit baca

Laba bersih 9M 2026 Rp4.12T. Rekor sepanjang sembilan bulan. Naik 584% dari Rp602M tahun lalu.

Pendapatan Rp16.15T (+144%). Margin operasi 34.7%, dari 12.2%. Margin bersih 25.5%, dari 9.1%.

Q3 saja (9M dikurangi semester I): laba sekitar Rp1.41T, dibanding sekitar Rp303M di Q3 2025. Hampir lima kali lipat.

EPS 9M mendekati Rp553, dengan 7.45 miliar saham. Setahun penuh dengan laju yang sama: sekitar Rp738. Dengan PER 5 saja, harganya Rp3,688.

Harga sekarang sekitar Rp3,640. Artinya pasar memberi TINS PER 4.9x.

Murah?

Di sinilah saya berhenti.

Kutukan investor saham siklikal

Peter Lynch pernah mengingatkan: saham siklikal terlihat paling murah justru ketika labanya di puncak. PER 4.9x belum tentu diskon. Bisa jadi itu cara pasar bilang: "Kami tidak percaya laba ini akan bertahan."

Graham dan Dodd mengajarkan hal serupa dengan cara lain: nilai perusahaan jangan dari laba satu tahun terbaik, tapi dari laba rata-rata lima sampai sepuluh tahun.

Sekarang lihat TINS dengan kacamata itu. Tahun buku 2023 rugi dan tidak bagi dividen. Tahun 2024 DPS Rp63.73 (40% dari laba). Tahun 2025 dividen Rp656.8M, sekitar Rp88 per saham (50%). Lalu 9M 2026 melonjak ke Rp4.12T.

Tiga tahun lalu perusahaan yang sama rugi. Hari ini ROE-nya, kalau dihitung setahun penuh, sekitar 54% (hitungan saya, memakai rata-rata ekuitas). Ekuitas naik dari Rp8.41T ke Rp11.97T hanya dalam sembilan bulan.

Analogi yang saya pakai: ini seperti petani yang panen raya karena harga cabai tiba-tiba Rp100 ribu per kilo. Kalau kita bilang "petani ini untung 500% setahun, PER-nya cuma 5", kita lupa bertanya: berapa tahun harga cabai bisa bertahan di Rp100 ribu?

Harga apa yang sudah dihargai pasar?

Saya balik hitungannya. Laba bersih per ton: sekitar Rp253 juta di 9M 2026, dibanding sekitar Rp64 juta di 9M 2025. Harga jual rata-rata naik US$17.4 ribu per ton dan laba bersih per ton naik Rp189 juta. Artinya sekitar 60% dari kenaikan harga mengalir ke laba bersih (hitungan kasar dari dua titik data, dengan kurs Rp18 ribu).

Dengan aturan itu dan volume 26 ribu ton, inilah hubungan harga timah dan harga saham pada PER 5.5x:

ASP (US$/ton)Laba bersih (Rp T)EPS (Rp)Harga saham pada PER 5.5x (Rp)
35,000≈2.1≈279≈1,532
40,000≈3.5≈467≈2,569
45,000≈4.9≈656≈3,605
50,000≈6.3≈844≈4,642
55,000≈7.7≈1,033≈5,679

Baca baris ketiga. Harga Rp3,640 hari ini kira-kira menyiratkan ASP sekitar US$45 ribu yang bertahan di volume 26 ribu ton. Harga LME 27 Oktober US$51,017, dan ASP 9M US$51,011. Dengan asumsi PER 5.5x saya, pasar sudah memotong sekitar 12% dari harga timah hari ini. Pasar tidak bodoh.

Setiap perubahan US$10 ribu per ton kira-kira menggeser laba bersih setahun sekitar Rp2.8T pada volume itu. Bagi perusahaan yang labanya Rp5T, itu lebih dari separuh.

Target 30 ribu ton: mari kita hitung

Manajemen menargetkan 30,000 ton Sn dan penjualan logam 29,000 ton untuk 2026, dan mengatakan masih on track. Mari lihat angkanya.

Produksi bijih 9M 2026: 18,883 ton (63% target). Penjualan logam 9M: 16,304 ton (56% target).

Q3 sendiri: penjualan logam sekitar 5,320 ton, lebih rendah dari rata-rata kuartal di semester I (sekitar 5,492 ton). Produksi bijih Q3 sekitar 6,651 ton, naik dari rata-rata semester I sekitar 6,116 ton. Untuk mencapai 29,000 ton, Q4 harus menjual sekitar 12,700 ton. Itu 2.4 kali Q3.

Dengan laju Q3, setahun penuh kira-kira 21,600 ton penjualan dan sekitar 25,500 ton bijih. Target bijih 30 ribu ton hampir pasti meleset sekitar 15%, dan target penjualan logam sekitar 25%. Tapi, jujur, itu tidak penting untuk laba tahun ini karena RKAP awal hanya menargetkan laba Rp1.6T dan sudah terlewati dua setengah kali lipat. Yang penting adalah bagaimana volume 2027.

Harga jual rata-rata Q3 saya hitung sekitar US$53.5 ribu per ton (dari 9M US$51,011 dan semester I US$49,794). Kalau benar, Q3 dinikmati harga tinggi sementara volumenya tidak naik.

Siapa pemilik saham ini, dan apa tujuannya?

MIND ID memegang sekitar 65%. Dari dividen Rp656.8M, Rp426.9M mengalir ke MIND ID.

Pemegang saham pengendali ini bukan investor biasa. Kontan menulis emiten MIND ID menghadapi tuntutan tinggi untuk setor dividen sambil ekspansi. Tujuan mereka bukan membuat saham TINS naik. Tujuan mereka salah satunya dividen untuk Danantara.

Ini bisa baik untuk kita (dividen yang konsisten). Bisa juga buruk (payout dipatok mengikuti kebutuhan holding, bukan siklus bisnis).

Harga saham TINS sendiri: sekitar Rp1,160 pada Juni 2025, Rp3,110 pada akhir Desember 2025, Rp3,640 pada akhir Juni 2026, dan kini sekitar Rp3,640 sampai Rp3,680. Naik tiga kali dalam 17 bulan, lalu mendatar sejak Juni, sementara laba terus melompat.

Transaksi direksi dan komisaris TINS di Keterbukaan Informasi BEI: tidak ditemukan dalam riset ini. Itu bagian yang akan selalu saya cek dulu sebelum menulis thesis. Kalau orang dalam membeli di harga berapa, kita tahu siapa yang yakin.

Hal-hal yang membuat saya tidak nyaman

Pertama, siklus. Timah sudah turun dari rekor sekitar US$57-59 ribu (sumber berbeda tanggal) ke US$51 ribu (27 Oktober), turun sekitar 10-14%. Kalau tambang Man Maw di Myanmar kembali berproduksi penuh atau Kongo pulih, pasokan bisa melonggar. Salah satu analis menaruh proyeksi timah dengan keyakinan paling rendah dibanding tembaga dan aluminium.

Kedua, kebocoran. Asosiasi eksportir menyebut hingga 12,000 ton timah keluar secara ilegal dari Indonesia setiap tahun. Kejagung menghitung kerugian negara di perkara tata niaga timah 2015-2022 sebesar Rp300T (hitungan BPKP Rp300.003T), dengan puluhan tersangka. Penertiban 2026 membuat produksi TINS melompat, tapi itu hasil kebijakan, bukan hukum alam. Kalau harga tinggi bertahan, godaan tambang ilegal akan kembali.

Ketiga, izin. Pemberitaan menyebut RKAB TINS di Belitung sudah habis untuk 2026. Ekspansi produksi 2027 butuh kuota baru.

Keempat, pasar saham. Pada 2 November investor asing menjadi penjual bersih saham TINS, salah satu yang paling banyak dijual hari itu. MSCI membuka konsultasi untuk menurunkan status Indonesia menjadi Standalone Market. Itu sebabnya saham yang labanya rekor pun bisa mendatar.

Kesimpulan

TINS bukan saham murah.

Graham mengingatkan bahwa pasar itu seperti pemilik usaha yang manic-depresif, hari ini menawarkan harga murah, besok mahal. Di puncak siklus, sebagian besar dari kita justru akan menahan terlalu lama. Dan itu, sama seperti membeli terlalu cepat, seperti teman saya mas Eko, selalu beli di pucuk, walaupun tetap bagian dari investasi.

Trirengginas
2/11/2026

Angka berasal dari media dan situs analisis, dan sebagian adalah hitungan penulis. Periksa ke laporan keuangan resmi di IDX. Tulisan ini bukan ajakan membeli atau menjual saham.